rindu itu abu-abu
RINDU ITU ABU-ABU
Berbicara rindu adalah kalimat untuk
mengungkapkan perasaan yang tidak karuan. Seiring berjalannya waktu, rindu itu
bagaikan tafsir yang entah menggambarkan perasaan seseorang, atau hanya sekedar
angin lalu. Kita pasti pernah merasakan rindu itu sendiri, entah karena jauh
dari seseorang atau sekedar mengingat ia pernah di samping kita menghabiskan
waktu bersama, tertawa bersama atau bahkan berencana bersama-sama apapun
keadanya, namun pada akhirnya ia pergi meninggalkan kenangan dan rindu yang
amat dalam. Selayaknya jingga sore hari, engkau sangat cantik namun engkau
pergi terlalu cepat, sehingga aku disini selalu disiksa oleh rindu yang amat
dalam itu. Di tepian kota ini, kita selalu bersama menghabiskan waktu berdua, bercerita
seakan akan dunia akan kita kuasai berdua walaupun pada akhirnya engkau pergi
entah kemana.
‘’Selayak Rama
merindukan Sinta, daun merindukan angin hingga membuatnya jatuh , tanah
merindukan langit hingga membuat tanah sadar bahwa mencintai tak harus
memiliki, demikian rinduku padamu abu-abu terkadang rindu waktu bersamamu,
terkadang hanya sekedar angin lalu ‘’ rindu itu abu-abu
Bukan sosokmu lagi yang kurindukan, melainkan
kenangan kita yang telah lalui dalam suka maupun duka. bercerita di tepian kota
di iringi rintik hujan yang membasahi dahan dan daun ‘’apakah kamu lupa?’’, hal-hal
lucu yang selalu kita temui di jalan, tertawa bersama di atas motor sambil
memandang indahnya kota di sore hari, katamu rindu itu abu-abu bukan? Tetapi
rindu ini selalu menyiksaku.
Selalu aku titipkan rindu ini pada
burung camar yang terbang di dekatku, rinduku padamu abu-abu terkadang rindu waktu
bersamamu terkadang hanya sekedar angin lalu , momen bersamamu merupakan bagian
paling indah dalam hidupku. meskipun pada akhirnya kamu pergi tanpa pamit membuat
luka yang paling pedih, namun disini aku merasakan rindu yang abu-abu ini.
Rindu abu-abu 15,07,2023
Malam telah datang, senja perlahan turun
di ufuk barat, malam mengingatkanku akan momen bersamamu, kala itu kita selalu melihat senja seakan
menggambarkan hubungan kita tidak sesingkat senja itu, ya memang senja sangat
indah bukan seperti katamu kala itu, sambil memandang wajahmu aku berkata ‘’
akankah hubungan kita seperti senja ini indah namun sesaat?’’ lalu kamu
menjawab dengan senyum yang masih teringat jelas di pikiranku ‘’aku tidak akan meninggalkanmu, karena kamu sudah
menjadi rumahku ’’ dengan tetap memandang wajahmu aku membalasnya ‘’ bagaimana
jika senja tadi berubah menjadi malam, apakah kamu tetap setia menunggu senja
itu kembali?’’ namun, bukannya menjawab kamu cuma senyum tipis dan berpaling
menatap jalanan di tepi kota itu yang perlahan sepi, sampai akhirnya kamu pergi
dan mungkin tak akan kembali lagi .
‘’Selayaknya senja, engkau pergi begitu
cepat membuat kenangan yang selalu aku rindukan, meskipun diganti oleh malam
dan bintang yang begitu cantik, senja momen yang akan selalu dirindukan oleh
semuanya bukan tentang warnanya, melainkan tentang sosok yang selalu ada
menemani dan selalu akan di rindukan’’ rindu itu abu
abu
Denganmu, adalah hal yang selalu aku
rindukan meskipun kamu telah memberikan luka yang masih membekas, namun tidak
bisa aku pungkiri momen bersamamu yang selalu aku rindukan, denganmu lah aku
bisa tertawa lepas melupakan semua masalah yang aku miliki. seandainya waktu
bisa di putar kembali, ingin rasanya kembali dimomen itu. Seandainya kenangan
bersamamu di jadikan buku, mungkin akan ada beribu-ribu halaman untuk menceritakan
serunya bersamamu akan ada banyak episode yang selalu menarik dan tak
membosankan .
Malam ini hujan turun di halaman rumah,
teringat bersamamu ketika menepi di tepi jalan untuk meneduh, waktu itu kita
berencana ke pantai menikmati indahnya ombak namun di tengah perjalanan hujan
turun yang mengharuskan kita meneduh di ruko orang , kala itu aku menatap wajahmu
yang basah oleh air hujan sungguh indahnya momen itu namun sayang tidak bisa
terulang kembali , di rintik hujan ini aku selipkan doa dan rinduku padamu
meskipun aku tak tahu apakah kamu juga sama merindukanku juga atau tidak, karena
rindu itu abu-abu
Hujan, senja dan rindu yang abu-abu
widodoemronkusuma



Komentar